Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Inne Hardjanto Photography Site

Photography

Blog EntrySep 9, '11 6:27 PM
for everyone

Mengenang Al Haramain ... Den Haag, 2007 Oleh Eko Hardjanto

 

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, banyak benarnya petuah itu. Tak heran karena ia keluar dari sang samudra ilmu, Ali R.A, Karamallahuwajhahu -Allah memuliakan wajahnya-. Pada kesempatan ini, saya akan mengikat pengalaman berharga semasa perjalanan haji dengan menuliskannya. Karena pengalaman itu adalah sumber ilmu di kemudian hari. Bergurulah dari pengalaman, begitu petuah lain yang saya dengar ketika dahulu di Sekolah Dasar.

 

Sesaat di akhir perjalanan haji, di bandara Jeddah nan kecil dan sibuk, jauh dari keindahan Schiphol nan nyaman dan megah, saat itu pukul lima sesaat sebelum adzan subuh, kami sembilan orang baru saja tiba dari perjalanan melelahkan Madinah-Jeddah. Sebuah perjalanan delapan jam di kegelapan malam membelah padang pasir di kiri kanan, untuk mengejar pesawat Saudi Arabia Airlines menuju Muenchen pukul 14.45 siang kesokan harinya. Beberapa rekan kami terbaring lelah di kursi tunggu bahkan di lantai ruang tunggu beralaskan sleeping bag. Di tengah lalu lalang kerumunan manusia di bandara pada ujung malam itu, akhirnya terlontar sebuah ungkapan hati selama perjalan haji ini dalam diskusi kecil di antara kami. Ungkapan hati yang datang dari seorang yang selalu khusyuk dalam dzikir haji-nya, dari seorang yang selalu  berupaya melindungi perjalanan haji ini tetap dalam bingkai kesabaran dan kesempurnaan. Ia seorang Maroko, Abdul Aziz namanya, mengeluarkan isi hatinya,

 

’’Many people’s coming here without right knowledge, they just focused on what to do physically to become Al-Hajj but they’ve forgotten even denying to apply good deeds in achieving that mission.’’.

 

Ia pun menambahkan,

 

’’They the askar -security guard in Masjidil Haram- should have been respecting us better. We’re coming here actually not for those people –the Saudi’s people- but in the cause of Allah.’’

 

Terkesima saya mendengar ungkapan hatinya. Ia selama ini banyak diam, dan jauh dari obrolan keluh kesah beratnya perjalanan haji. Wajahnya ikhlas dan sering nampak menenangkan istrinya yang pula ia bawa ke Tanah Suci. Namun saat itu ia keluarkan beberapa petikan bunga pelajaran selama perjalanan haji. Pelajaran-pelajaran penting bagi para jamaáh haji di berbagai masa, dan tak lepas pula pelajaran-pelajaran penting bagi sang ashabul bait, pemerintah Saudi Arabia yang sang rajanya mereka sebut sebagai The Custodian of Al-Haramain. 

 

Pelajaran sabar, inilah pelajaran terbesar yang harus dipersiapkan para jamaah haji. Seakan berulang, berbagai ujian kesabaran memang mewarnai seluruh aktifitas haji setiap orang. Rombongan haji kami bahkan telah melalu berbagai ujian ini jauh sebelum aktifitas haji dimulai, saat semua jamaáh kami masih di negeri Belanda menunggu jadwal penerbangan ke Tanah Suci. Ujian kesabaran dalam penantian dan selama perjalanan haji adalah sebuah kesabaran yang tersurat yang kasat dalam pandangan mata kami. Hampir setiap orang mengalami ujian kesabaran yang tersurat semacam ini walau dalam bentuk yang berbeda-beda. Dari mulai kesabaran menanti dikabulkannya visa hingga tertolaknya visa, kesabaran menanti jadwal keberangkatan, kesabaran memelihara hati ketika hati diombang-ambing ketidakpastian keberangkatan karena masalah jadwal penerbangan, kesabaran memelihara hati ketika perjalanan haji harus dilakukan jauh diluar rencana dan diluar harapan kenyamanan, hingga kesabaran karena panas terik matahari menuju Arafah. Namun dalam kesempatan ini, saya akan pula sedikit berbagi kisah tentang beberapa contoh ujian kesabaran dalam bentuk yang tidak kasat mata, ketika dalam ujian tersebut manusia sering terkecoh menjawab setiap persoalannya.

 

Jauh-jauh hari sang sahabat mulia Umar ibn Khattab pernah berkata tentang Hajr Aswad, ‘’Jika bukan karena Rasulullah menciummu maka tak akan aku menciummu’’.

Dalam rangkaian haji, Thawaf termasuk salah satu prosesi yang memberikan banyak ujian kesabaran. Di tengah kepadatan manusia yang mengelilingi satu titik Baitullah, terutama di siang hari di kala terik matahari, maupun di malam hari, peluh akan tetap selalu menetes dari tubuh-tubuh para jamaah. Perjuangan berjalan mengitari 7 kali area Baitullah akan semakin berat ketika melewati dua sisi bujur sangkar antara Rukun Yamani dan Hijr Ismail, di mana tiga daya tarik utama Baitullah berada, yaitu Hajar Aswad, Maqom Ibrahim, dan Multazam. Bagaikan madu di hadapan ribuan lebah yang kehausan, ketiga obyek mulia itu menarik seluruh jamaah Thawaf berebut kehadapannya. Ribuan manusia menuju satu titik, berjuang meraih keistimewaan.

 

Ribuan wajah manusia berjuang mencium sang batu hitam Hajar Aswad. Gelombang manusia tertahan. Terjadilah benturan, tarikan, dan dorongan. Bahkan hardikan.

Ribuan manusia menuju Multazam, doa-doa dipanjatkan, maqbul tanpa halangan, berdiam di sana doá dipanjatkan, doá diri sendiri maupun doa titipan. Gelombang manusia tertahan. Terjadilah benturan, tarikan, dan dorongan. Bahkan hardikan.

Akhir 7 putaran Thawaf ribuan manusia berdesakan dekat Maqom Ibrahim, mengejar keistimewaan shalat 2 rakaát di sana dilakukan. Gelombang manusia tertahan. Terjadilah benturan, tarikan, dan dorongan. Bahkan hardikan.

 

Dalam berbagai buku manasik haji selalu ditekankan bahwa melakukan ketiga hal di sekitar Baitullah di atas memang sebuah keistimewaan, namun semua itu adalah sunnah yang sangat baik dilakukan jika kondisi memungkinkan. Selain itu, tidaklah mengurangi nilai ibadah haji tanpa melakukan ketiga hal tersebut. Di atas semua itu, adalah pula sebuah kewajiban menjaga kehormatan Baitullah dan Masjidil Haram, dan kehormatan sesama muslim. Alangkah sia-sia segala upaya para jamaah haji jika ternyata untuk mencapai keistimewaan sunnah kemudian mengabaikan kewajiban dalam ahlak dan perilaku. Namun demikianlah yang terjadi setiap masa, ia selalu berulang tanpa jeda, seakan Allah menunjukkan kepada semua manusia tentang keragaman ahlak, karakter, dan pengetahuan para hamba-Nya. Dengan ini pulalah Allah memberikan ujian kesabaran kepada para tamu-Nya dalam setiap ritual haji.

 

Sebuah perkara istimewa dalam kasat mata namun di balik itu mengandung ujian,  untuk menyeleksi siapa di antara manusia yang mampu menyikapi setiap perkara tersebut dengan bijaksana dan penuh kesabaran. Sinyal itulah yang pula ditangkap oleh Umar R.A dalam perkataannya tentang Hajar Aswad, sebuah teladan bahwa keistimewaan mencium Hajar Aswad tidaklah melebihi keistimewaan akan upaya menjaga kemurnian akidah dan keyakinan tentang pentingnya menjaga ahlak karimah selama melaksanakan ritual haji.

 

Contoh ujian kesabaran pun tersirat ketika seluruh ritual haji telah terlaksanakan dan ribuan manusia berbondong-bondong menuju kota nubuwwah, Madinah Al-Munawaroh. Beribu harapan terpaku dalam dada untuk shalat dalam masjid yang mulia, Masjid Nabawi. Beribu kerinduan tersimpan dalam dada untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah beserta dua sahabat mulia, Abu Bakar dan Umar, R.A, di hadapan makam mereka. Beribu keinginan terpaku dalam dada untuk mendapatkan sekeping surga dalam Ar-Raudhah taman surga, ketika doá-doa dipanjatkan tanpa penghalang. Manusia berjubel, berdesakan, menunggu giliran duduk dalam taman surga. Di sana doá-doa dipanjatkan ketika kepala dan pundak terdesak lutut-lutut manusia yang berhimpitan. Di sana shalat dua rakaát dilakukan ketika sujud membentur kaki-kaki manusia yang berhimpitan. Sementara gelombang manusia terus memuncak ratusan jamaáh masih tetap terpaku memanjatkan doá. Semua berebut meraih keistimewaan, dan di sekitar mereka wajah-wajah lelah menunggu giliran.

 

Demikianlah salah satu ujian kesabaran yang tersirat dalam aktifitas haji, maupun ketika mengunjungi Masjid Nabawi. Sabar untuk tidak terpaku dan tergesa-gesa meraih keistimewaan, karena di balik itu ada sebuah kehormatan yang harus dijunjung tinggi yaitu kehormatan Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan pula kehormatan sesama saudara muslim. Menjunjung kehormatan mereka adalah sebuah kewajiban yang lebih istimewa dibanding perkara apa pun.

 

Benar sekali apa yang dikatakan saudaraku Abdul Azis, ‘’Many people’s coming here without right knowledge…’’ 

Hajar Aswad, Multazam, Maqom Ibrahim, dan Ar-Raudhah adalah keistimewaan, namun di balik ahlak yang mulia pun tersimpan mutiara keistimewaan.

Wallahua’lambishshawab.

 

 

 

PELAJARAN SABAR DARI ARAFAH

Oleh Eko Hardjanto

Sebuah hadits Rasulullah riwayat Ibnu Umar mengisahkan tiga orang yang terjebak di dalam gua. Masing-masing mereka kemudian bertawassul dengan amalan baik yang mereka lakukan, dengan harapan Allah membebaskan mereka dari himpitan gua yang pengap dan gelap. Mereka adalah seorang ayah yang tetap menjaga jatah susu untuk kedua orang tuanya yang tertidur, sekalipun anaknya sendiri merengek meminta susu tersebut, seorang yang tidak jadi mengambil ’tubuh’ sepupu perempuannya yang cantik sebagai ganti pembayaran hutang, seorang majikan yang buruhnya ’lupa’ mengambil jatah upah, lalu ia kembali kepadanya dan memberikan banyak gembalaan sapi sebagai hasil pemutaran uang atas upah yang tertinggal itu. Batu penutup gua akhirnya terbuka atas ijin Allah dan merekapun selamat dari bahaya.

Pada hari itu, sembilan Dzulhijjah 1428 H di padang Arafah. Jutaan manusia berbaris dengan ihram menuju tenda-tenda. Lautan putih di bawah terik matahari dengan peluh di mana-mana. Jabal Rahmah dengan tegak menyaksikan itu semua, menjadi saksi sebuah perumpamaan pengadilan akhir nanti di padang Mahsyar. Rombongan kami berjalan terhuyung-huyung karena jauhnya empat jam perjalanan, di bawah panas terik satu jengkal matahari. Di Namirah sesaat sebelum zawal, jutaan manusia bergegas melawan arus rombongan kami, mengejar keistimewaan mendengar kutbah tausiyah di sana. Rombongan terdesak, kami hanyalah tubuh-tubuh kecil orang Asia. Seorang ibu kehabisan tenaga, ia pun lunglai tak berdaya.

Entah di mana mulanya, tiga saudara kami dalam rombongan kemudian terpisah diri. Sedikit yang menyadari karena masing-masing sibuk dengan urusannya, sebuah kewajaran di tengah kelelahan dan kepanikan lautan manusia. Lagi-lagi sebuah perumpamaan pengadilan akhir nanti di Padang Mahsyar.

Tiga hari kemudian, di tenda Mina. Kami mendapati mereka bertiga ada di sana. Satu bapak tua Suriname tertidur lelap dengan sepiring buah dan makanan di sisi kanannya, pemberian istrinya yang terus berdoa dengan urai air mata, dan juga dua pemuda Suriname berbaring santai yang salah satunya dengan kaki bengkak dibalut perban.

Entah apa yang terjadi hanya Allah yang menghendaki mereka bertemu kembali dengan rombongan kami. Tiga orang tanpa pengenal di antara jutaan manusia bagaikan setitik debu di padang pasir Arafah-Muzdalifah-Mina.

Kami kemudian mencoba mencari cerita dari mereka, kisah tiga hari berpisah apa yang terjadi. Tidak banyak yang saya dengar kecuali sebuah senyuman manis dari dua pemuda,

’ This is Hajj my brother...we were only remembering our sins..hope Allah will forgive us...’’.

Sebuah jawaban singkat namun penuh makna. Tak terdengar keluh kesah dari mereka.

Sementara si bapak tua bercerita, dalam tiga hari berpisah, di tengah kesendirian hanya ditemani kain ihram, ia selalu berupaya menjalankan seluruh ritual haji tanpa kehilangan satu rukun dan kewajiban pun. Terlepas dari wukuf Arafah, lalu mabit di Muzdalifah, menyelesaikan ritual di hari Nahar, kemudian mabit dan berjuang melempar jumrah di Mina, hingga akhirnya tanpa disangka bertemu tenda kami pada hari Tasyrik di perbatasan Mina. Kami tanya ia tidur di mana, beralas pasir beratap langit jawabnya. Apa yang dilakukan si bapak tua dalam tiga hari kesendirian pun sama dengan dua pemuda, mengingat dosa-dosanya.

Senyum, sabar, tawakkal, dan mengingat dosa. Itu semua bekal ketiga orang tadi dalam kesendirian, berpisah dari rombongan di tengah jutaan manusia di alam yang panas luar biasa. Sama dengan hadits riwayat Ibnu Umar hanya sedikit berbeda. Tiga orang terdahulu berbekal amal baik memohon pertolongan kepada-Nya. Tiga orang di hari Arafah berbekal sabar, mengingat dosa, memohon pertolongan kepada-Nya. 

***

Al hajju Al mabruur laisa lahu jazaa-un illal jannah


Blog EntryMay 17, '10 2:54 PM
for everyone

Sebagai catatan untuk Ajang Kreasi Foto De Gromiest 2010 dengan tema BUNGA...

Komposisi mengambil peran penting dalam menghadirkan nilai estetika juga pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah foto. Dalam memotret bunga, peran penting komposisi amat terasa. Komposisi dalam fotografi memang memilki dasar teori tersendiri, teori ini untuk membantu terutama bagi pemula. Namun untuk melatih 'skill' tentang bagaimana membuat sebuah komposisi yang baik, tidak mesti terpaku pada teori komposisi yang diciptakan hanya sebagai alat bantu tersebut. Pengalaman, uji coba, dan mengasah rasa estetika dengan mempelajari bagaimana foto-foto indah dan baik menyajikan 'Point of Interest' (POI) nya dalam komposisi tertentu yang indah.

Untuk melatih mengembangkan 'Composition Skill', cobalah mengamati elemen-elemen komposisi dalam sebuah foto yang baik. Teliti lah bagaimana seorang fotografer dengan hasil karya foto yang indah menempatkan pembagian bidang gambar, warna, perspektif, bentuk, kedalaman fokus termasuk foreground dan background foto tersebut.

Terdapat beberapa teknik tentang komposisi, salah satu yang populer adalah 'Rule of Third'. Prinsip dasar teori ini adalah membagi bidang imajiner sebuah foto menjadi sembilan bidang dengan perpaduan antara dua garis vertikal dan dua garis horisontal seperti pada foto di bawah ini :

 

Pembagian bidang ini dapat dijadikan dasar 'framing' imajiner pada saat pengambilan sebuah foto, termasuk foto bunga. Persinggungan antara garis vertikal dan garis horisontal menghadirkan bidang yang memberikan keseimbangan pada sebuah foto. Pada garis persinggungan ini lah POI dapat ditempatkan. Seperti pada foto diatas POI nya adalah putik bunga, putik bunga tersebut menempati kurang lebih garis persinggungan atau perpotongan antara garis vertikal dan horisontal. Bagian ini dikenal dengan 'Golden Point' dari 'Rule of Third',  sedangkan bagian tengah disebut 'Death Center'.

Gambar atau objek yang ditempatkan pada bidang 'Rule of Third' dan POI nya pada 'Golden Point' akan memiliki daya tarik dan keseimbangan, tetapi teori ini tidak lah begitu kaku... pada akhirnya kreatifitas tidak bisa dibatasi dengan melulu mengacu pada teori. Banyak foto-foto yang indah juga menempatkan posisi POI nya pada 'Death Center'.

 

 


Blog EntryApr 22, '09 4:43 PM
for everyone

     Awal April 2009 merupakan kali pertama menapakkan kaki di bumi kinanah Mesir. Sedikit prasangka dan pertanyaan sempat melintas saat tiba di Bandara International Cairo Rabu malam itu. Apakah negeri ini akan ramah terhadap orang asing, akankah aman. 

     Setelah tawar menawar dengan sopir taksi yang bahasa Inggrisnya terbatas malam itu, kami melaju menuju stasiun kereta api Ramses kemudian menuju Wisma Nusantara tempat kami bermalam selama di Cairo. Pilihan di Wisma ini setelah membatalkan booking dengan hotel lain, berharap akan lebih mudah dalam berkomunikasi karena kami tidak bisa berbahasa Arab. Belakangan baru tahu kalau Wisma Nusantara ini cukup terkenal karena disebut-sebut juga dalam novelnya Habiburrahman El-Shirazy, Ayat-Ayat Cinta. Walaupun hanya sempat membaca sedikit saja bagian dari Novel ini, itupun karena ingin tahu kondisi Mesir yang menjadi setting cerita di novel itu.

     Bangunan Wisma Nusantara cukup rapi dan bersih dibandingkan bangunan-bangunan di sekitarnya yang banyak belum tuntas pembangunannya juga tampak jelas berdebu di siang hari. Disini kami pun berkenalan dengan beberapa mahasiswa Al Azhar sebagai pengelola wisma antara lain Hadi dan Mahatir yang selanjutnya menjadi guide kami yang ramah selama di Cairo.

     Dengan bantuan Mahatir, kami menyewa sebuah mobil travel untuk hari pertama dan kedua di Cairo lalu untuk hari ke tiga keluar kota Cairo, Al Fayoum.

Mobil travel van nyaman ber-AC memang mau tidak mau menjadi pilihan kami selama bepergian di Cairo ini walaupun tarifnya agak tinggi bahkan lebih tinggi dibanding menyewa sebuah mobil di Eropa. Karena kalau mengandalkan tranportasi umum seperti taksi untuk sehari penuh, perjalanan akan menjadi kurang nyaman akibat udara panas dan berdebu Cairo, belum lagi kemacetan dimana-mana. Apalagi kalau travelling bersama anak-anak yang terbiasa di udara dingin. Di Cairo taksi-taksi umum yang ada tidak dilengkapi AC. Taksi-taksi ini merupakan mobil keluaran tahun tujuh puluhan yang di Indonesia pun sudah sangat jarang ditemui.

     Fasilitas umum di Cairo memang agak mengkhawatirkan untuk sebuah kota terkemuka yang dikenal sebagai nafas peradaban masa lalu yang sangat menarik perhatian turis asing ini. Selain itu kemacetan yang tak kalah pelik seperti Jakarta mudah sekali dijumpai di sudut-sudut kota Cairo. Apalagi kalau menjelang malam disaat banyak orang memadati jalan-jalan dan pusat keramaian, karena denyut kehidupan Cairo sangat terasa pada malam hari disaat udara mulai sejuk. Sebetulnya bulan April ini belum memasuki musim panas di Mesir tapi udaranya sudah begitu menyengat apalagi saat kami berada di Luxor dan Aswan, Mesir bagian selatan. Begitu keluar dari kereta yang membawa kami menuju Aswan udara panas berhembus di wajah kami dan selanjutnya serasa berada di depan perapian. Padahal ini belum benar-benar memasuki musim panas, kebayang gimana teriknya musim panas disana sampai digambarkan dalam Novel Kang Abik sebagai mendidihnya ubun-ubun dan banyak diantara orang Indonesia yang mimisan. Mimisan juga dialami anak-anak secara bergantian walaupun gak banyak tapi jelas sekali akibat perubahan suhu yang ekstrim dari dingin di Belanda ke Panas di Aswan dan Luxor.

     Walaupun begitu adanya kondisi di Mesir, tapi perjalanan travelling kali ini justru terasa sangat berkesan. Tidak hanya terkesan oleh luar biasanya warisan peradaban kuno dan sejarah Islam disana tapi hikmah dibalik itu semua dan kesan dari nuansa keseharian warga Mesir sendiri yang saya temui dalam sembilan hari perjalanan.

     Rasa was-was yang sempat dirasakan perlahan-lahan hilang diawali dengan keramahan sopir taksi pertama yang kami temui saat dari bandara itu. Hari-hari berikutnya yang kami temui adalah keramahan demi keramahan warga Mesir. Tentu bukan karena kami merasa sebagai sesama muslim saja, karena kesan serupa didapat juga oleh dua orang turis asal Amerika yang satu ruangan dengan kami dalam kereta menuju Aswan. Mereka menceritakan pengalamannya dan merasakan kesan yang sama. Begitu juga saat saya membaca komentar seorang fotografer asing di sebuah forum foto tentang keramahan mereka ini.

     Rupanya benar bahwa orang Mesir itu terkenal dengan kebiasaannya menghormati tamu dan kesantunan perilakunya, sebagaimana sebuah kisah menyebutkan bahwa Rasulullah saat mengutus sahabatnya untuk berdakwah di Mesir menitipkan pesan agar berperilaku halus terhadap orang Mesir karena orang Mesir berperangai santun dan halus. Rasanya disetiap sudut tempat wisata banyak orang-orang yang menyapa dengan "welcome" malah gak sedikit juga yang selanjutnya terlibat percakapan dengan kami bahkan dengan anak-anak.

      Saat kami berada kawasan wisata Abu Simbel, Rafdi mendekati saya dan bercerita bahwa seorang bapak mengajaknya ngobrol. Bapak itu bertanya dengan bahasa Inggris sederhana sehingga dimengerti juga oleh Rafdi. "What is your name?" dijawab Rafdi dengan menyebutkan namanya, lalu Rafdi melanjutkan cerita, bapak itu bilang "where do you come from?" kata Rafdi "Indonesia"..."aahh endonesy" katanya. Are you moslem? yes kata Rafdi lagi, rupanya si bapak ngeh kami muslim karena saya berjilbab tentu. "So you can read the Qur'an ya" lanjut bapak itu yang dijawab Rafdi dengan anggukan..lalu si bapak dengan mimik antusias, menurut Rafdi, meminta anak saya itu untuk mengucapkan sebuah surat dari Al Qur'an. Tentu saja ini pengalaman menarik dan menantang buat Rafdi lalu dia pun membaca surat yang mudah Al Ikhlas...si bapak kontan senangnya dan memberikan pujian.     

     Pengalaman yang sama terjadi juga di sebuah restaurant sushi di Luxor saat seorang staff restoran itu mengajukan pertanyaan yang sama dengan ramahnya. Kali ini Rafdi dan Amira bergantian membaca sebuah surat Al Qur'an yang disambut dengan antusias staff restoran itu ... selanjutnya disudut lain masih di Abu Simbel, seorang bapak juga mengelus-ngelus rambut Amira, ini kesekian kalinya orang Mesir mengelus-elus rambut Amira dari mulai anak-anak sampai bapak-bapak. Menurut Mahatir, orang Mesir memang aneh dengan halusnya rambut orang Asia selain juga tingkah mereka itu menunjukkan sikap bersahabat dengan orang asing, mengelus rambut sambil senyum-senyum dan memuji.

     Sikap bersahabat dan penuh rasa persaudaraan yang membuat terharu juga saya rasakan sendiri beberapa kali. Diantaranya saat saya berada di dekat perkebunan mangga di Al Fayoum, seorang gadis cantik dengan kecantikan eksotisme khas Mesir berpakaian jubah hitam, tanpa sungkan menyapa kami dengan ramah.

Juga saat saya berada di Alexandria, beberapa orang gadis cantik yang sepertinya habis mengaji di mesjid dekat Qaitbay Citadel menyapa saya dan berbincang akrab lah kami kemudian. Mereka bilang sangat senang bisa bertemu dan berbincang bersama. Mereka memeluk saya satu persatu, membuat saya terharu. 

     Di Mesir pula, yang walaupun kondisi udara dan lalu lintasnya tidak nyaman tapi kami terhibur oleh lantunan suara murotal yang mengiringi perjalanan kami. Murotal atau bacaan Al Qur'an ini di putar sopir-sopir travel kami saat di Cairo dan saat di Al Fayoum. Sopir itu menunjukkan kaset murotalnya bahkan sempat menceritakan tentang Syaikh Jibril murotal terkenal. Saya jadi heran, begitu populernya seorang qori dikalangan sopir taksi ini. Kemudian di saat yang sama pandangan saya juga tersita oleh sebuah Al-Qur'an yang dibawa sopir travel tadi di dashboard mobilnya. Pengalaman itu saya alami saat kami di Cairo dan Al Fayoum yang selanjutnya kami alami juga di kota-kota lainnya.

     Murotal juga menyejukkan kami di dalam taksi tanpa AC ditengah teriknya Aswan, sebuah kota yang ditempuh dari Cairo sekitar 8 jam dengan kereta. Lagi-lagi sopir taksi yang ramah yang kami temui saat itu.

     Khalid nama si sopir taksi berkulit hitam itu adalah seorang Nubian. Nubian ini suku yang bermukim di perbatasan antara Mesir dan Sudan. Dia menunjukkan kami kaset murotal dan Al Quran yang ada di laci mobilnya. Subhanallah sopir-sopir taksi di Mesir ini begitu akrab sekali dengan Al Qur'an. Di Indonesia yang juga mayoritas muslim rasanya jarang ditemui sopir-sopir yang memutar murotal bahkan membawa-bawa Al Qur'an kemana pun. Yang akrab terdengar malah lagu-lagu dangdut.

    

     Al Qur'an memang menjadi nadi kehidupan warga Mesir rupanya, tidak hanya sopir Taksi, sopir delman pun demikian. Di restoran, di kedai minuman juice khas Mesir, di toko-toko termasuk di warung penjual souvenir adalah lantunan Al Qur'an yang di dengar. Apalagi di mesjid-mesjid...saat kami sholat di sebuah mesjid tampak beberapa orang membaca Al qur'an dengan khusyuk sementara di sudut lain beberapa orang pula tampak mengulang hafalan Qur'annya. Suasana yang menyejukkan di tengah teriknya udara Mesir.

     Akhirnya saya rasakan sendiri pengalaman yang pernah saya dengar dari cerita tentang uniknya negeri para nabi. Unik karena warisan yang dibawa para nabi masih tumbuh subur dan tertanam melekat pada pribadi-pribadi disana. Cerita yang pernah saya dengar itu adalah lagi-lagi cerita seorang sopir taksi. Sopir taksi itu mengeluh pada penumpangnya bahwa dia sudah tidak punya waktu khusus lagi menghafal Al Qur'an di rumahnya, sehingga ia menghafalkan Al Qur'an selama ia bekerja mengemudikan taksinya. Pada suatu perjalanan sopir taksi itu bertanya  kepada seorang penumpangnya adakah diantara mereka yang hafal surat tertentu dalam Al Qur'an. Ketika diketahui penumpangnya itu hafal Al Qur'an maka selama perjalanan, sopir taksi tadi meminta penumpangnya mendengarkan dan mengkoreksi hafalan Al Qur'an nya.

      

    

 

         Alunan suara adzan juga terdengar bersautan dari menara tinggi mesjid-mesjid di Mesir ini. Mesir memang terkenal juga dengan sebutan negeri seribu menara. Mesjid-mesjid, baik yang dibangun masa sekarang maupun warisan sejarah Islam dahulu, bertebaran disetiap pelosok kota. Walaupun di kota kecil dan bentuk mesjidnya pun kecil tapi pahatan interior di dalamnya sangat artistik dengan kombinasi pola-pola yang indah dipandang. Di sana pula lah mesjid-mesjid yang didirikan orang-orang Sholeh ada. Beberapa yang sempat kami kunjungi diantaranya mesjid Amru bin Ash, sahabat Rasul yang pertama kali menyebarkan Islam di Mesir dan mesjid dari imam mashyur Imam Syafi'i.

 

 

 

 

 

 

 

 

     Bukan hal yang aneh pula jika kita jumpai di pinggir jalan orang-orang sedang shalat berjamaah, bukan di mesjid tapi di pinggir jalan ataupun di tempat umum lainnya termasuk di area wisata. Beberapa kali saya menyaksikan pemandangan menyejukkan itu....subhanallah sebuah hikmah dari perjalanan kami kali ini. Dengan suasana kehidupan Mesir yang begitu adanya, ketidaknyamanan, debu bertebaran dan terik yang menyengat tapi ada kesejukan lain yang ditemui disana.

Eindhoven, 22 April 2009





Setelah dengan Ario Perdana menilai beberapa foto yang masuk ke redaksi panitia "Ajang Kreasi Foto De Gromiest 2009" dengan tema "TAMAN" ada beberapa catatan sebagai masukan seputar Foto Taman termasuk teknik, komposisi dan angle.

- Yang perlu diperhatikan pertama adalah kebanyakan kekurangan ada pada teknik fotografi. Usahakan aperture atau bukaan diafragma diset diatas f/8. Hal ini dimaksudkan untuk membuat ruang ketajaman (Depth of Field) lebih banyak pada sebuah foto taman, kecuali apabila hanya satu objek saja dari taman itu yang ingin di tonjolkan contoh air mancur atau pohon, atau hanya satu bagian saja yang ingin di tampilkan, misalnya bagian middle ground. Untuk itu bisa gunakan Aperture f/6 atau f/7.

- Foto taman yang tampak proporsional sebaiknya mencakup adanya foreground, middle ground, and background. Foreground bisa berupa pohon atau bunga atau apa saja yang bisa dijadikan latar depan sebuah foto. Middle ground adalah objek utama yang dibidik sedangkan background adalah latar belakang bisa berupa tanaman dan lain-lain yang paduan ketiganya bisa menampilkan foto yang lebih berdimensi. Contoh pada foto berikut yang menjadi foregorund adalah deretan bunga tulip kuning, middle ground adalah kursi taman dengan bunganya sedangkan background adalah pohon-pohon di belakangnya. Aperture disini tidak telalu kecil karena focus diarahkan pada middle ground.

- Sebuah foto yang berdimensi memerlukan adanya framing, framing biasanya tergantung ide dan kreativitas fotografer bisa menjadikan gerbang taman sb framing foto kita, bunga atau objek lainnya contoh framing ada pada foto berikut yang menjadikan pagar berhias bunga sb framing foto. 

- Bila memungkinkan gunakan tripod terutama untuk kondisi pencahayaan yang minim, tentunya untuk menghindari foto "shake".

- Penggunaan lensa 50mm pada DSLR camera cukup ideal untuk sebuah foto taman juga digunakan untuk mendapatkan perspektif normal dari kondisi taman apa adanya. Penggunaan lensa yang lebih lebar ( wide angle lens) contoh 20-35 mm bisa juga untuk tampilan kesan yang berbeda dari kondisi taman sebenarnya. Penggunaan lensa ini juga bisa membidik background yang lebih luas. Foto dengan framing bunga tadi adalah contoh penggunaan wide lens.

-  Bila di taman terdapat air mancur, air terjun atau air yang mengalir lain seperti di sungai kecil pengaturan slow shutter speed  (1/4 second atau lebih lambat lagi) bagus untuk memberi kesan aliran air tadi.

-  Bila dalam foto itu terdapat danau atau kolam, sebaiknya bayangan objek yang tampak di air danau itu dibuat utuh sebagai refleksi antara objek dan bayangannya, usahan jangan terpotong. Contoh refleksi ada pada foto berikut, termasuk framing berupa ranting dan tanaman di  bagian bawah foto sekaligus sebagai foreground.

- Beberapa foto juga banyak yang tidak memiliki Point of Interest (POI) yang jelas. POI disini artinya pusat perhatian utama dari sebuah foto, sehingga foto berhasil menampilkan apa yang ingin ditampilkan atau disampaikan fotografer (pesan sekaligus ide foto dari fotografer).


Blog EntryAug 18, '08 12:22 AM
for everyone
Catatan untuk diingat-ingat tentang bagaimana membuat foto landscape yang baik, gak nyangka akan ketemu pemandangan alam yang luar biasa di Norway, makanya gak diantisipasi sebelumnya akan membuat foto landscape, ternyata bagus banget landscape disana. Sepertinya idaman para landscaper tuh. Insyallah kalau ada kesempatan lagi mesti niat khusus untuk hunting kesana kali ya disela-sela liburan keluarga.

Dari sekarang dibuat dulu nih contekannya kalau akan membuat foto landscape sesuai harapan. Saya rangkum dari beberapa sumber tentang teknik landscape photography :

  1. Ingat-ingat exposure setting, dalam hal ini small aperture dari f/11 sampai f/22 untuk memastikan area foto tajam semua. Waktu itu teknik ini sih sudah dilakukan walau kalau low light tetap bablas juga pake bukaan 5 bahkan 4 soalnya banyak foto yang dibuat dalam mobil jadi ngejar kecepatan tinggi ya itulah jadinya hasilnya so so
  2. Timing foto yang tepat adalah early morning or late evening, nah ini yang susah kalau waktu terbatas. Kadang nemu satu spot yang bagus banget viewnya saat siang matahari lagi terik-teriknya, jadinya hasil fotonya juga datar-datar aja. Pake olahan di Photoshop ? teteep hasilnya kurang memuaskan. Intinya harus foto dasarnya punya greget untuk diolah dulu gitu, baru deh dengan sekali sentuhan layer aja langsung hasilnya memuaskan. Foto  danau Lugano  ini saya ambil di waktu sore, cahaya kekuningannya membuat foto agak beda kan?  (yang gak setuju boleh protes kok :D) foto tanpa sentuhan satu layer pun, warm colour memang efek dari cahaya alami sore itu.

  • Kalau punya kelebihan dana boleh juga melirik lensa 'wide angle'. Dengan lensa ini pemandangan bisa dibingkai secara lebih leluasa maksudnya lebih lebar gitu. Kalau gak ada bisa pakai teknik foto panorama kali ya. Pelajaran tambahan satu lagi nih :D
  • Usahakan menempatkan sesuatu sebagai "foreground" atau dengan kata lain foto yang enak dilihat itu yang ada variasi latar depan dan tentu lebih bagus lagi kalau ada framing. Contoh untuk foreground antara lain, bunga, batuan, pagar, binatang atau diri kita sendiri (huehehe ini mah jadi foto narsis atuh ceritanya bukan landscape lagi :D, menyesatkan jangan diingat ya !) contoh framing ada difoto saya yang diatas , framingnya  difoto itu tanaman dan ranting pohon.
  • Pemandangan yang indah yang banyak diabadikan oleh para landscaper terkenal itu tidak dijumpai dengan mudah dipinggir jalan, jadi harus sedikit berpetualang dengan berjalan kaki menyusuri daerah-daerah yang 'dicurigai' memiliki pemandangan menakjubkan.Kebetulan saat di Norway itu dipinggir jalan pun pemandangannya sudah begitu memukau apalagi kalau dijelajah lebih jauh. Contoh lain saat di Swiss, saya pernah melihat hasil foto bagus di daerah yang saya kunjungi tapi saya sendiri gak nemu view seperti itu, ternyata danau dengan gunung es yang memantulkan refleksi itu adanya di daerah yang tidak dijangkau kendaraan, harus seperti pendaki gunung rupanya menjelajah. Tapi sayangnya dalam membuat foto saya biasanya moto apa yang ada di depan mata aja, jarang bela-belain apruk-aprukan teu pararuguh (istilah bahasa Sunda, yang gak ngerti ngacung, hehehe...) foto berikut contohnya saat di St. Moritz, beruntung ketemu view seperti ini dipinggir jalan.

  • Gunakan tripod dan polirizing filter. Satu hal yang bikin repot lagi nih bawa-bawa tripod. Tapi memang harus usaha kalau mau dapat foto memuaskan. Sayangnya kalau travelling tripod sering gak dipedulikan. Sekalinya dibawa kadang ketinggalan di hotel atau di dalam mobil. Tapi beneran sih tanpa tripod saya jadi gak bisa bikin foto air terjun yang mantap dengan aliran air yang halus, sayang... sedangkan polirizing filter itu must-have nya filter buat saya dari jaman punya kamera rikiplik dulu. Buat saya filter ini selain untuk mereduksi cahaya berlebih dari langit sehingga langit lebih gelap dan warna birunya tampak jelas, filter ini dipakai untuk melindungi lensa dari benturan.
  • Lalu katanya filter neutral density dan graduated grey, bagus juga dimiliki untuk mengurangi kontas antara landscape dengan langitnya. Juga untuk menggelapkan langit yang fungsinya lebih baik dibanding polirizing filter.
  • Gunakan juga beberapa filter untuk memperbaiki warna contoh filter sepia. Nah kalau yang ini tentu gak praktis, soalnya saya pernah praktekkin waktu dulu masih pakai  kamera jaman rikiplik tea. Sekarang kan sudah lebih mudah, penambahan filter untuk mengkoreksi warna bisa dilakukan di Photoshop. Saya rasa hasilnya sama aja malah lebih fleksible dan tentu gak memakan waktu lama kalau dibanding saat dilokasi kita ganti-ganti filter. Nanti kalau mau motret burung, burungnya keburu kabur malah.
  • Shoot dalam Raw format dan jangan JPEG dulu kata tutorial yang saya baca itu. Kenapa? karena ini sebagai bahan dasar untuk pengolahan lebih lanjut di software foto sebagaimana yang dilakukan para landscaper.
  • Be original ! ... ini sih maksudnya karya kita harus punya ciri khas jangan meniru karya orang lain, berlaku banget buat professional kali ya...

Blog EntryAug 10, '08 7:15 AM
for everyone




Terima kasih banyak ya atas apresiasinya lewat "Kreativ Blogger Award" walau agak telat nih responnya karena baru pulang vakansi jadi lama gak online, badan masih pegel-pegel lalu log-in ke multiply ternyata ada kiriman hadiah ini dari teman-teman yang punya blog kreatif di bawah ini, Rachma dan Teh Elly, sekali lagi terima kasih dan terus berkarya juga ya untuk Teh Elly dan Rachma.


Kreativ Blog Award dari Rachma


Kreativ Blog Award dari Teh Elly



Tambahan nih Teh Elly, hatur nuhun oge kanggo kirimannya, jilbab dll, suka bangeeet...warna dan motifnya selera saya banget loh Teh (hehehe si Teteh tau aja kesukaan saya), bagaimana saya memakainya ? akan ada di foto vakansi terbaru saya nanti hehehe...niat bangeeet :) mudah-mudahan bisa "jadi" ketemuan ya dengan si Teteh yang baik hati ini suatu saat, soalnya waktu ke Belanda kemarin gak sempat jadinya ketemu karena padatnya jadwal acara Teh Elly.

Rachma, walau masih sangat muda (umurnya jauh di bawah adik saya) candidat Phd RUG ini tulisan berbahasa Inggrisnya tentu memberi inspirasi bagi pembacanya termasuk saya...sukses selalu ya Rachma

Update-update.....

Tambahan lagi, ternyata timpukan kreativ blog award ini dapet juga dari Vivi, secara Vivi Pohan gitu loch kekekek bikin daku terharu biru ditimpuk Vivi juga senyum-senyum tuh baca komentarnya, makasih-makasih ya Vi, tetap kreatif juga ya dan daku tetap setia membaca rangkaian kata-kata dirimu yang asik dan menyegarkan :D


Kreativ Blog Award dari Vivi


Eh ketinggalan berita nih, selain kena timpukan award ini ternyata harus menimpuk yang lain juga ya, waduh bingung deh soalnya jarang jalan-jalan jadi agak-agak kuper begitu sodara-sodara, mohon dimaafkan ya hanya terbatas pada kata-kata ungkapan terima kasih saja atas
timpukannya :)))





Foto dengan objek utama tajam sedangkan latar belakangnya samar atau blur, selalu menarik perhatian. Terutama jika menginginkan fokus perhatian foto pada satu objek tertentu. Contoh untuk foto dengan objek seperti jenis foto portrait, bunga, hewan atau objek lain yang ingin ditonjolkan seperti pada foto disamping.

Foto semacam ini dinamakan foto yang memiliki “Shallow Depth of Field”. Depth of Field (DoF) itu sendiri merupakan rentang kedalaman fokus pada kamera, semakin sempit DoF (Shallow DoF) semakin sedikit wilayah ketajaman foto.

Foto dengan "Shallow DoF" ini bisa dihasilkan dengan baik oleh kamera jenis SLR (contoh Nikon D70s, Canon EOS 350D, Konica Minolta Dynax 7D dsb.). Sedangkan bila menginginkan latar belakang foto blur untuk foto yang diambil dengan menggunakan “Pocket Camera” (contoh Canon Power Shot A400, Sony dsc 600 dsb) bisa dibuat dengan bantuan digital tool seperti “Photo Shop” atau “Corel Photo Paint”. Tahapan pengerjaannya akan diuraikan lebih lanjut pada bagian kedua tulisan ini. Kamera jenis poket ini memiliki keterbatasan dalam hal "focal legth", sehingga sulit menghasilkan foto dengan background blur.

Berikut beberapa langkah yang harus diperhatikan untuk membuat latar belakang foto menjadi blur secara teknik fotografi :

1. Tempatkan objek utama dengan latar belakang sejauh mungkin. Hal ini memungkinkan bila foto kita sejenis portrait yang objek fotonya menggunakan model. Contoh seperti pada foto ini


Semakin jauh jarak objek dengan latar belakang maka background foto blur yang dihasilkan akan semakin baik. Bayangkan bila latar belakang foto diatas adalah sebuah tembok yang jaraknya dekat dengan model, maka fokus akan mengarah pada model dan tembok.

Agak sulit memang bila objek foto adalah objek yang tidak bisa di pindahkan seperti contoh pada foto bunga tulip diatas, namun teknik di poin 2 dan 3 bisa digunakan.

2. Set aperture atau bukaan diafragma (pengertian lebih jauh tentang aperture, ada pada tulisan sebelumnya) pada kamera, dengan aperture yang lebar (ditandai angka kecil) saran saya dibawah F/5.6. Pada angka F/6 pun masih memungkinkan apalagi bila jarak latar belakangnya jauh, namun dibawah angka itu hasil blur akan lebih baik. Untuk objek yang jarak dengan latar belakangnya dekat, set aperture (bukaan diafragma) sekecil mungkin tergantung kondisi cahaya yang ada. Saran saya, bagus juga untuk mencoba berbagai kombinasi pencahayaan antara F/2.8 sampai F/5.6 tentu hasilnya akan berbeda dan kadang membuat hasil foto lebih mengesankan.


3. Penggunaan lensa tele. Lensa tele adalah lensa yang memiliki focal length yang lebar. Lensa ini mudah dikenali dari bentuknya yang panjang. Lensa tele memiliki efek mendekatkan dan dapat menghasilkan DoF yang sangat sempit. Pernah lihat foto pemain sepakbola ditengah lapangan dengan latar belakang foto blur? atau stok foto selebriti Holywood yang dibuat paparazzi yang bernilai jutaan dollar itu? foto-foto itu kebanyakan dihasilkan dengan penggunaan lensa tele. Semakin panjang lensa tele yang digunakan dan semakin besar bukaan diafragmanya, membuat berbagai benda lain yang berada di latar belakang semakin blur. Penciptaan objek utama yang menonjol disertai latar belakang blur dengan menggunakan lensa tele panjang dan kombinasi bukaan diafragma besar, adalah cara yang paling umum digunakan oleh photographer professional untuk menampilkan objek utama agar tampak menonjol, tetap tajam dan menjadi pusat perhatian.



Tulisan ini saya buat atas permintaan beberapa teman untuk berbagi teknik-teknik photography yang saya ketahui. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang photography. Bukan berarti sudah jago sih, kalau ada kategori di bawah amatir itulah saya. Saat ini saya pun masih dalam tahap terus belajar walaupun secara otodidak baik dari buku-buku fotografi maupun dari situs-situs fotografi. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat!

Pada dasarnya membuat sebuah foto adalah memadukan antara Aperture dan Shutter Speed menjadi suatu kombinasi yang pas.

Apa itu Aperture dan Shutter Speed ?

  • Aperture yaitu bukaan diafragma lensa (bisa dianalogikan dengan bukaan mata kita
    saat melihat benda jarak jauh atau jarak dekat) biasanya dalam ukuran f/2.8, f/5.6, f/7,f/11 dan seterusnya.
  • Shutter Speed yaitu kecepatan bukaan diafragma tadi, shutter speed berkenaan dengan berapa lama lensa menerima cahaya sewaktu diafragma di buka; dalam ukuran 1sec, 1/45sec, 1/125sec ,1/250sec, adapula yang 1/2000 sec dan seterusnya (sec:seconds/detik)

Perpaduan keduanya merupakan kombinasi yang unik, kombinasi yang saling mempengaruhi satu sama lain untuk menghasilkan sebuah foto yang kita inginkan (dan artistic tentunya).

Perpaduan Aperture dan Shutter Speed dapat menghasilkan Depth of Field (DoF) yang beragam.

Apa pula DoF itu? Depth of Field itu adalah rentang kedalaman fokus pada kamera, DoF merupakan ukuran rentang latar belakang objek foto dengan latar depannya. Mudahnya, bisa kita lihat dari blur atau tidaknya latar belakang foto kita. Kalau foto kita latar belakangnya blur berarti DoF nya dangkal begitu juga sebaliknya. Mengenai teknik dan trik mendapatkan Shallow DoF atau foto dengan latar belakang blur (ini biasanya menjadi favorit) akan saya buat tulisan terpisah.

Kembali ke Aperture (bukaan diafragma) dan Shutter Speed (kecepatan).

Aperture itu mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke lensa kamera.

Semakin besar bukaan diafragma (aperture tadi) maka cahaya yang masuk semakin banyak. Bukaan diafragma besar ditandai dengan angka yang kecil misalnya f/2.8, f/4 sampai f/5.6. Fungsinya untuk menajamkan objek tunggal contohnya kalau kita akan memotret orang, bunga, hewan sebagai objek tunggal dan kita menginginkan latar belakang yang blur namun objeknya tetap tajam.

Sebaliknya bukaan diafragma yang kecil (ditandai dengan angka besar spt f/8,f/10, f/11 dst.) akan menajamkan semua bagian foto baik itu objeknya maupun latar belakangnya).
Kondisi ini berguna saat kita akan memotret objek seperti pemandangan ataupun perkotaan dimana hasil foto tajam semua.

Semakin besar bukaan diafragma, semakin sedikit wilayah ketajaman foto kita (shallow depth-of-field)

contoh pemilihan aperture terdapat pada dua foto berikut :

Pada contoh foto disamping ini saya menset kamera semi SLR (Canon Powershot S1IS) dengan bukaan diafragma yang besar f/4 (ditandai angka kecil) untuk mendapatkan "Shallow DoF". Karena pada saat itu cahaya agak mendung jadi kecepatan dibuat cukup lambat yaitu 1/20 sec, kombinasi ini masih memungkikan terhindar dari "camera shake" tanpa harus memakai tripod.

Dengan diafragma yang besar maka latar belakang menjadi blur. Karena foto ini sejenis snapshot jadi tidak banyak waktu untuk saya dalam menset variasi kombinasi kecepatan dan diafragma, kalau melakukan coba-coba dulu moment baik-nya tidak akan tertangkap, keburu berubah posisi modelnya, nanti anak saya keburu kabur !

Kemudian contoh untuk foto yang bukaan diafragmanya kecil (ditandai dengan angka besar) adalah foto pemandangan berikut ini : Foto ini bukaan diafragmanya f/14, shutter speed-nya 1/320sec. Diambil dengan kamera jenis SLR (Single Lens Reflex) Nikon D70s.

Dengan bukaan diafragma yang kecil (angkanya besar biasanya diatas 7) maka memungkinkan foto ini DoF nya luas sehingga foto menjadi tajam, dalam arti pemandangan yang ingin ditampilkan dapat terekam dengan jelas.

Mengenai Shutter speed,

shutter speed (kecepatan) ini mengatur berapa lama cahaya itu masuk. Contohnya: shutter speed 1sec (1 detik) berarti cahaya yang masuk lebih lama dibandingkan kalo shutter speed 1/250 sec ( 1/250 detik). Semakin lambat shutter speed, cahaya yang di peroleh akan semakin banyak.

Kalau diafragma berkaitan dengan ketajaman foto, maka Shutter speed ini berkaitan dengan “camera shake”. Semakin cepat shutter speed (bisanya yang aman diatas 1/125 sec) maka goncangan camera dapat diminimalisir. Dalam keadaan memotet bergerak (seperti dalam mobil) perlu kecepatan yang tinggi seperti1/1250 keatas. Bila kita menggunakan kecepatan yang lambat maka kemungkinan hasil foto kita goyang semakin

besar. Untuk mengatasinya kita bisa menggunakan tripod. Contoh foto dengan shutter speed tinggi adalah foto disamping ini:

Foto ini kecepatannya 1/2000sec dan diafragmanya f/10. Foto ini diambil saat saya berada di dalam mobil yang melaju. Untuk menghindari

"camera shake" maka kecepatan saya set di 1/2000, karena saat memotret saya melawan sinar matahari jadi kecukupan cahaya saat itu memadai sehingga memungkinkan pula untuk memadukan shutter speed 1/2000sec dengan aperture f/10.

Selain menghindari “camera shake” kecepatan juga berguna untuk menangkap object yang sedang bergerak seperti pemain bola yang sedang berlari di lapangan.

Kombinasi keduanya, seperti yang telah saya singgung diatas, sangat saling mempengaruhi dan menentukan hasil akhir sebuah foto. Perpaduan shutter speed dan aperture tergantung

pada kondisi cahaya disekitar objek yang akan kita foto. Bagaimana cara melihat kondisi cahaya yang pas sehingga foto tidak buram (under exposure) ataupun foto tidak terlalu terang (over exposure) ? kita bisa melihat di view finder kamera kita. Disitu ada indikatornya, biasanya ditunjukkan dengan garis atau titik. Bila garis atau titik itu pas berada di tengah indikator kombinasi pencahayaan (exposure), maka foto sudah bisa ditampilkan.

Pada kondisi pencahayaan yang kurang, gunakan perpaduan kecepatan yang lambat dan bukaan diafragma yang besar (tergantung ketajaman yang diinginkan pula) untuk kecukupan cahaya. Seperti pada foto berikut :

Foto ini adalah contoh dimana nilai artistik sebuah foto tidak harus dihasilkan pada kombinasi shutter speed dan aperture yang pas atau normal. Foto ini adalah perpaduan shutter speed dan aperture yang diindikasikan pada kamera sebagai over exposure (kelebihan cahaya). Karena kondisi pencahayaan disekitar jembatan Erasmus Rotterdam malam hari minim sekali untuk sebuah foto, maka shutter speed saya buat lambat sekali yaitu pada angka 30sec sedangkan aperturenya f/7.1 (cukup untuk membuat tajam keseluruhan foto). Kamera indikator menunjukkan over exposure, tapi foto ini hasilnya lebih indah dibandingkan dengan foto serupa yang saya buat dengan kombinasi exposure yang lain yang mengikuti indikator pada kamera yang pas.